Majene Regency’de MBG Zehirlenmesi hakkında gerçekler


KERACUNAN makan bergizi gratis atau MBG terus terjadi meski program andalan Presiden Prabowo Subianto sudah berjalan setahun. Belum genap sebulan di Januari 2026, ribuan orang mengalami keracunan.

[–>

Okumaya devam etmek için aşağı kaydırın

[–>

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 1.242 orang menjadi korban keracunan makan bergizi gratis sepanjang Januari 2026. Secara kumulatif, JPPI menyebut total korban keracunan MBG sejak 2025 hingga awal 2026 mencapai 21.254 orang.

Yang teranyar, kasus keracunan makan bergizi gratis terjadi di Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat, Selasa, 13 Januari 2026. Berikut sejumlah fakta tentang keracunan makan bergizi gratis baru-baru ini.

[–>

Tim Surveilans Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat, mengkonfirmasi 50 orang mengalami keracunan setelah menyantap makan bergizi gratis pada 12 Januari 2026.

Hingga kemarin, dari total 50 orang, 40 orang di antaranya masih dirawat di puskesmas setempat. “Dirujuk tidak ada (nol), pulang ke rumah atau sembuh satu orang, dan dirawat di rumah sembilan orang,” tulis data tim Dinkes Provinsi Sulawesi Barat tersebut, Selasa, 13 Januari 2026.

“Ini data update pukul 16.00 WITA,” kata pihak hubungan masyarakat Puskesmas Majene saat dihubungi via pesan WhatsApp.

Tim surveilans dan dinas kesehatan setempat mengatakan saat ini rata-rata korban yang keracunan usia balita. Belum terkonfirmasi apakah ada korban ibu hamil di antara 50 korban keracunan tersebut. “Kami masih cek kembali untuk validasinya,” katanya.

Penyebab Keracunan MBG Tunggu Hasil Uji Lab BPOM

Dinas Kesehatan Kabupaten Majene sampai saat ini belum memutuskan apakah kasus keracunan MBG pada 13 Januari 2026 bakal ditetapkan status kejadian luar biasa atau tidak. 

Hingga kini Dinkes Majene masih melakukan investigasi atau penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui penyebaran kasus dan sumber penyebab keracunan sambil menunggu hasil laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Mamuju.

Tim survelains dan dinkes telah mengambil sampel dari muntah dan sampel makanan yang sebelumnya disantap oleh para korban. Menurut data yang dihimpun oleh tim surveilans, korban menyantap makanan berupa nasi putih, ayam suwir, mi kecap, sayur sop, tahu kuning, dan semangka.  

Data sampel makanan itu diambil di Bank Sampel Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Majene Tubo Sendana Onang, Majene, oleh petugas kesehatan lingkungan Dinas Kesehatan Majene. Pemeriksaan laboratorium untuk sampel tersebut dilakukan pada 13 Januari 2026.

Menurut dinas kesehatan, gejala menderita gejala sakit perut, mual, muntah, diare, sakit kepala, demam, dan turgor jelek. Dugaan sementara sumber keracunan berasal dari MBG yang didistribusikan oleh SPPG Majene Tubo Sendana Onang, Yayasan Kreatif Jaya Perdana yang dibagikan di sekolah dan posyandu.

Mayoritas Korban Keracunan MBG Majene Balita

Tim Surveilans Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat, mengatakan mayoritas dari 50 orang yang mengalami keracunan setelah menyantap menu makan bergizi gratis merupakan balita.

Data Tim Surveilans Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat mencatat, hingga Selasa, 13 Januari 2026, 40 orang masih dalam penanganan fasilitas kesehatan. Rinciannya, sembilan orang dirawat di rumah, satu orang dinyatakan sembuh, dan tidak ada pasien yang dirujuk ke rumah sakit.

Pihak hubungan masyarakat Puskesmas Majene membenarkan bahwa sebagian besar korban merupakan anak usia balita. “Rata-rata korban adalah balita. Untuk ibu hamil, masih kami cek kembali untuk validasi data,” kata petugas humas Puskesmas Majene saat dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Cerita Korban Muntah-muntah Malam Hari

Anak balita Silvia mendadak muntah-muntah pada Selasa dinihari, Selasa, 13 Januari 2025. Silvia lantas terbangun dari tidur sekitar pukul 00.30 WITA saat anak laki-lakinya yang berusia dua tahun itu muntah.

“Tiga kali muntah di rumah langsung dilarikan ke puskesmas,” kata perempuan berusia 38 tahun ini saat Tempo hubungi.

Tujuh jam sebelum kejadian, Silvia bercerita anaknya sempat menyantap hidangan dari program makan bergizi gratis. Makan tersebut diantar ke rumahnya sekitar pukul lima sore waktu setempat atau Senin, 12 Januari 2026.

Sejak berstatus sebagai penerima manfaat MBG pada awal Januari ini, Silvia kerap mendapat makanan pada sore hari. Kondisi itu berbeda dengan anak sekolah yang menerima pada waktu makan siang. 

Ia mengatakan tidak sempat mencicipi makanan yang terdiri dari nasi putih, mi goreng, ayam suwir, dan potongan buah semangka. Setibanya makanan, warga Kecamatan Tubo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat itu mengatakan anaknya langsung melahap hidangan itu.

Sekitar pukul tujuh malam waktu setempat, Silvia mengatakan anaknya kembali menyantap sisa MBG. Anaknya kemudian tidur sekitar pukul sepuluh malam.

Di tengah malam, Silvia mengatakan anaknya terbangun dan memuntahkan isi perutnya. Ia kemudian membawa anaknya ke puskesmas karena kondisinya nampak lemah. Ia bercerita ketika hendak pergi ke puskesmas, anak tetangganya mengalami hal serupa. 

“Tetangga di samping rumah ternyata anaknya juga muntah-muntah pada saat itu,” tutur dia.

Hingga saat ini, Silvia menjelaskan anaknya masih terbaring di kasur puskesmas. Ia mengatakan anaknya tidak lagi mengalami muntah. Namun kini diare.

Ia mengatakan petugas puskesmas belum menyimpulkan penyebab anaknya mengalami muntah-muntah. Silvia mengatakan tim medis masih mencari penyebabnya. “Apakah betul keracunan atau bagaimana,” ujar dia.

Sementara itu, Camat Tubo Sendana Abdul Azis mengatakan sudah melakukan mediasi antara penerima manfaat dan sejumlah pihak program MBG di kantornya, pada Selasa, 13 Januari 2026.

Abdul menjelaskan dalam mediasi itu penerima manfaat mendesak perubahan waktu pengiriman MBG. Ia mengatakan penerima manfaat menginginkan agar pengiriman makan bergizi gratis dilakukan sama seperti ketika SPPG mengirimkan ke sekolah. “Jam 10 (pagi),” kata Abdul saat dihubungi.

Soal kasus keracunan, Abdul mengatakan belum ada kesimpulan atas penyebab penerima manfaat MBG mengalami sakit dan dilarikan ke puskesmas. Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana dan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S. Deyang belum menjawab pesan konfirmasi yang dikirimkan melalui WhatsApp ihwal kasus ini. 

 

Dinda Shabrina berkontribusi dalam penulisan artikel ini



Kaynak bağlantısı