DI New York, Amerika Serikat, Farid Muttaqin sempat cemas menanti kabar dari keluarganya yang menetap di Medan, Sumatera Utara. Mahasiswa yang sedang menempuh studi doktoral di State University of New York (SUNY) Binghamton, New York itu bercerita bahwa keluarganya menjadi korban bencana banjir yang melanda Pulau Sumatera beberapa hari terakhir.
Pilihan Editor: Kegagalan Sistemik Layanan Kesehatan dalam Kematian Irene Sokoy
Okumaya devam etmek için aşağı kaydırın
Pada Kamis pagi, 27 November 2025 waktu Medan, adik Farid memberi kabar bahwa air mulai memasuki rumah. Sekitar pukul 8 pagi, banjir sudah mencapai betis orang dewasa.
[–>
“Kami pikir, ya, bakalan cuma sampai betis itu saja, tapi lama-lama-lama sampai jam 11 pagi, katanya air sudah mulai selutut, lalu pukul 12.30 siang waktu Medan, air sudah mencapai dada orang dewasa,” ucap Farid melalui sambungan telepon pada Jumat, 28 November 2025.
Pukul 12.30 siang waktu Medan itu adalah saat terakhir Farid bisa mengontak keluarganya—sebelum akhirnya kontak terputus selama lebih kurang 14 jam. Saat itu, lewat tengah malam di New York, Farid khawatir lantaran banjir yang melanda tampak makin serius. Farid mengatakan wilayah keluarganya tinggal di Medan itu tak pernah mengalami banjir besar.
[–>
Farid makin cemas lantaran rumahnya di Medan itu turut dihuni oleh dua orang lanjut usia dan dua anak di bawah lima tahun atau balita. “Total di rumah itu enam orang, dua lansia di atas 70 tahun, dua balita berusia 4 dan 5 tahun, terus ibu dan bapaknya mereka itu,” ujar Farid.
Melalui sambungan telepon, adik Farid mengabarkan bahwa mereka keluar rumah untuk mengungsi di atas mobil. Sementara pintu rumah sudah dikunci untuk menahan air masuk. Farid lantas meminta sang adik untuk menghemat baterai ponselnya. Musababnya, aliran listrik di rumahnya itu juga sudah padam. “Saya bilang diirit-irit saja handphone-nya, karena lampu sudah mati, nanti enggak bisa charge lagi,” ucap Farid. Harapannya, ponsel masih bisa digunakan untuk berkontak ketika ada situasi yang sangat darurat.
“Saya udah pasrah di sini lah, tapi masih agak lega karena masih bisa telepon,” tutur Farid.
Namun, sekitar pukul 3 pagi waktu New York, Farid mendapat kabar dari istrinya, Ira, bahwa keluarganya di Medan tak bisa dihubungi. “Dari jam 3 waktu sini itu saya langsung enggak tidur lagi, saya coba telepon-telepon terus, enggak bisa juga. Wah ini sudah putus kontak, putus komunikasi, jangan-jangan handphone-nya sudah enggak bisa dipakai,” kata Farid.
Ia lantas mencoba menghubungi berbagai pihak seperti posko banjir yang ada di sekitar wilayah rumahnya, tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Palang Merah Indonesia (PMI), kantor wali kota, hingga kantor gubernur. Namun, ia tak mendapat respons.
“Boro-boro minta evakuasi, ya, minta bantuan, kami didata saja enggak. Karena nomor teleponnya itu semuanya enggak bisa,” kata Farid.
Farid mengaku sempat kehilangan harapan untuk bisa kembali berkontak dengan keluarganya. “Gimana kalau terjadi apa-apa? Bahkan kami menginformasikan situasi mereka saja enggak bisa. Itu sebenarnya yang bikin kami sempat agak hopeless,” tutur dia.
Setelah 14 jam tanpa kabar, Farid akhirnya menerima pesan dari sang adik. Adiknya itu mengabarkan bahwa mereka masih bertahan di atas mobil. Keenam anggota keluarga itu terjebak di tengah-tengah air banjir yang tak kunjung surut.
“Mereka mengabarkan juga kalau dari pagi belum makan. Kami khawatir banget, mereka enggak punya akses ke makanan,” kata Farid.
Menurut Farid, akses bantuan ke wilayah yang terdampak banjir di Kota Medan tersebut memang terhambat. Sebab, debit air saat itu masih tinggi.
Pada Jumat, 28 November 2025, sekitar pukul 7 pagi, dua kawan Farid berhasil sampai di lokasi untuk memberi bantuan. Saat itu, kata Farid, air sudah surut. Yang tersisa adalah lumpur dan genangan air di dalam rumah.
“Tapi saya lega, karena akhirnya bisa berkomunikasi, dan akhirnya ada akses untuk bisa sampai ke sana, dan yang paling penting lagi, sudah mulai terbuka mobilitasnya, sehingga kalau mau keluar pun sudah bisa,” ujar dia.
Sejumlah wilayah di Kota Medan, Sumatera Utara, terendam banjir dengan ketinggian bervariasi akibat hujan lebat yang terjadi sepanjang Rabu malam, 26 November, hingga Kamis pagi, 27 November 2025.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan Yunita Sari mengatakan, selain karena hujan lebat, banjir yang terjadi juga dampak meluapnya Sungai Deli dan Sungai Babura yang membelah Kota Medan.
